Followers

Rabu, 11 Januari 2017

“Peka dan Hidup dalam Pembaharuan”


Tuhan selalu memberikan pembaharuan bagi kita. Pembaharuan yang seperti apa? Berikut ini adalah sebuah kisah pembaharuan Tuhan yang saya alami dalam bentuk sebuah penguatan bagi iman saya. Penguatan itu datang pada suatu malam, ketika seorang sahabat yang jauh di sana bertanya kepada saya mengenai ayat apa yang kira-kira tepat untuk dijadikan sebagai pedoman hidup untuk pengharapan. Maka dengan segera saya langsung membuka Alkitab saya. Hati saya mengatakan supaya saya membuka kitab Mazmur. Ketika saya menyusuri lembar demi lembar kitab Mazmur, akhirnya mata saya terpaku pada sebuah ayat yang sangat indah yang berbunyi demikian,

“Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku..” – Mazmur 62:2

Ketika mata, hati dan pikiran saya menggumuli ayat ini, saat itu juga laptop setia saya yang saat itu sedang memutar lagu-lagu rohani, memutarkan juga sebuah lagu pujian dengan lirik yang sama yang bersumber dari Mazmur yang sama, “Hanya dekat Allah saja aku merasa tenang.. Daripada-Nyalah kes’lamatanku.. Hanya Dia gunung batu dan kes’lamatanku”. Tiba-tiba hati saya terasa begitu sesak, air di dalam mata saya menetes keluar. Saya merasa bahwa saya adalah seseorang manusia yang tidak ada apa-apanya. Seorang manusia yang kerapkali lari dari pegangan tangan Allah. Padahal sudah sangat jelas apa yang Ia katakan, Ia dekat pada saya dan memberikan keselamatan bagi saya.

Saudara yang terkasih, kerapkali dalam kehidupan kita, kita menjalaninya dengan sekadarnya saja. Mungkin kita sering berkata, “Ah, memang sudah berjalannya demikian, maka rutinitas seperti inilah yang selalu saya lakukan”. Akibat dari merasa terlalu biasa dengan rutinitas itu, membuat pertumbuhan iman kita pun menjadi biasa. Dan dampak dari pertumbuhan iman yang biasa-biasa saja, atau bahkan tidak ada pertumbuhan, hanya stagnan saja, membuat hubungan kita dengan Allah pun menjadi biasa. Inilah yang membuat kita akhirnya merasa jauh dari Tuhan. Kesibukan yang padat dan segala rutinitas itu membuat kita lupa untuk menemukan anugerah-anugerah Tuhan yang begitu banyak jumlahnya dalam hidup kita. Kesibukan yang padat dan rutinitas itu membuat kita lupa bahwa kita bisa melakukan semuanya itu hanyalah karena kasih setia Allah yang selalu tercurah untuk kita.

Saudara yang terkasih, hidup yang stagnan dapat menjadi penghambat bagi pertumbuhan iman kita. Kita membutuhkan pembaharuan-pembaharuan dalam diri kita. Kita membutuhkan kompor-kompor untuk memanaskan penghayatan perjalanan iman dan hidup kita bersama Allah. Dan untuk bisa memperoleh pembaharuan itu syaratnya hanya ada satu, jadilah manusia yang peka. Seperti dalam pengalaman yang saya alami, saya belajar peka pada peringatan-peringatan dan perhatian yang Allah berikan bagi saya. Saya peka bahwa Allah sedang mengingatkan kepada saya, “Mari dekat kepada-Ku, anak-Ku”. Kadang kita mengandalkan pembaharuan itu bisa kita dapatkan dari orang lain, dari khotbah di gereja, dari orang-orang di gereja. Itu semua tentu perlu, sebagai jalan masuk, sebagai cara Tuhan mengingatkan kepada kita, seperti juga Tuhan memakai sahabat saya untuk mengingatkan saya. Tetapi meski begitu, hal yang lebih penting adalah kita pun juga harus peka terhadap peringatan Tuhan tersebut dan mau belajar untuk bertumbuh melalui peringatan-peringatan tersebut serta melakukan pembaharuan dalam hidup kita masing-masing.

Saudara yang terkasih, ya, memang Allah dekat. Ia memberikan begitu banyak tanda dalam kehidupan tentang betapa kasihnya Dia kepada kita. Ia menyediakan pembaharuan-pembaharuan dalam hidup kita agar kita semakin menjadi anak-anak-Nya yang dibaharui, bertumbuh dan dapat menjadi berkat bagi sesama kita yang lain. Pertanyaannya, maukah kita menerima itu semua dan mulai membuat pembaharuan-pembaharuan di dalam hidup kita agar hidup kita bisa menjadi berkat? Jawabannya ada pada tangan kita masing-masing..

Selamat semakin menghayati Masa Penantian, selamat menemukan tanda-tanda dari Allah dan selamat membuat pembaharuan-pembaharuan di dalam hidup kita..

Tuhan Allah memberkati kita sekalian..


Jakarta, 07 Desember 2014.

"Janji yang Digenapi"


Janji-Mu s’perti fajar di pagi hari
Yang tiada pernah terlambat bersinar
Cinta-Mu s’perti sungai yang mengalir
Dan ku tau betapa dalam kasih-Mu

Apabila kita mendengar kata janji Tuhan, sedikit atau bahkan banyak dari kita pasti ingat dengan lagu di atas. Tapi tahukah kita bahwa lagu ini berangkat dari sebuah pengalaman hidup yang sulit dan berat? Adalah Afen Hardiyanto. Afen saat ini tinggal di Malang bersama dengan istrinya, Ana Naomi dan kedua anaknya yang berumur 12 tahun dan 10 tahun, Vanessa Manuela Hardiyanto dan Victor Nathanael Hardiyanto. Afen dan istrinya berpacaran sejak duduk di bangku SMA. Awalnya hubungan mereka ditentang oleh pihak keluarga istrinya, namun mereka tetap menjalin hubungan sampai akhirnya mendapat restu untuk menikah. Tanpa disadari, ternyata Afen menyimpan kepahitan akibat penolakan yang pernah ia terima dari keluarga istrinya. Hal ini menyebabkan hubungan pernikahan mereka menjadi kurang harmonis. Dan dampak dari hal itu juga, muncul orang ketiga yang semakin memperkeruh hubungan pernikahan Afen dan istrinya. Afen bahkan pernah ada dalam masa begitu membenci istrinya, sudah tidak ada lagi kasih di sana. Namun meskipun itu yang terjadi, istrinya tidak pernah sekalipun membalas kekasaran yang ia terima dari Afen. Bahkan ia berpuasa ketika kehamilan anak keduanya. Namun apapun yang dilakukan istrinya, Afen tidak mempedulikannya, bahkan ia memulangkan istri dan anaknya pulang ke rumah orang tua istrinya. Orang tua Ana marah dan mengharapkan anaknya lebih baik bercerai saja.

Dalam situasi sendiri dan menjalani kehidupan seperti yang ia inginkan, suatu kali Afen ditegur oleh Tuhan. Teguran itu membuatnya sangat terluka. Ia begitu merindukan anaknya yang pertama, dan di saat itu juga hatinya hancur dan ia menangis sejadi-jadinya. Dan ketika hatinya hancur itu Afen mendapatkan notasi dalam kepalanya, dan ia menuliskan lirik serta notasi lagu “Janji-Mu s’perti Fajar”. Singkat cerita, lagu ini yang tadinya mau disimpan secara pribadi oleh Afen rupanya justru bisa dibagikan kepada orang banyak melalui pendeta gerejanya. Dan keluarga Afen pun juga pulih karena pertolongan yang Allah berikan dalam diri Afen, dan berdampak pada pemulihan di dalam keluarganya.

Saudara yang terkasih, pernahkah kita menyadari, di dalam hidup ini, hadiah apakah yang terbaik yang dimiliki oleh kita sebagai orang Kristen? Hadiah terbaik yang kita miliki adalah penyertaan Allah, dan itu adalah janji-Nya. Allah memberikan janji-Nya kepada manusia semenjak awal mula sejarah kehidupan manusia berlangsung. Ia berjanji bahwa Ia akan menolong dan menyertai manusia dalam setiap lika-liku yang manusia hadapi. Dan rupanya apa yang Allah katakan, berikan kepada manusia itu tidak hanya berhenti pada janji. Ketika kita berjanji pada orang lain, hal yang dapat membuat kita semakin dipercaya adalah ketika kita menepati janji kita itu. Begitu juga dengan Allah. Allah selalu mengulang-ulang janji-Nya bagi kita, meyakinkan kepada kita penyertaan dan pertolongan-Nya akan selalu ada. Dan itu tidak hanya berhenti pada kata-kata saja, Allah membuat janji itu menjadi kenyataan. Kita dapat melihat banyak contoh penyertaan Allah dalam kisah kehidupan manusia. Allah berjanji pada Nuh akan menyelamatkan keluarganya dari air bah, dan Allah membuatnya jadi. Allah berjanji pada Abram yang pada saat itu belum mempunyai keturunan bahwa keturunannya akan banyak seperti bintang di langit dan pasir di laut, dan Allah membuatnya jadi juga. Dan seperti contoh di awal juga yang sudah kita lihat bahwa penyertaan Allah yang luar biasa terjadi juga dalam kehidupan keluarga Afen Hardiyanto.

Saudara yang terkasih, seperti yang sudah dapat kita lihat bersama, janji-janji Allah itu sudah digenapi, sudah dipenuhi, sudah dijadikan nyata oleh-Nya. Tinggal kita sebagai umat kita mau membuka tangan kita dan meraih janji-janji itu atau tidak. Memang pergumulan hidup tidak akan habis, tidak akan hilang sama sekali. Tetapi saat itulah ketika kita mau dibetuk oleh Allah, maka kita akan menemukan penyertaan-penyertaan itu, pertolongan-pertolongan yang dari Allah sendiri. Dan ingatlah bahwa itu adalah hadiah terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Janji Allah seperti fajar di pagi hari yang tiada pernah terlambat bersinar..

Selamat menghayati dan memegang janji-Nya, dan selamat menemukan penggenapan-penggenapan janji-Nya dalam hidup kita..

Tuhan Allah memberkati kita sekalian..



Jakarta, 26 Oktober 2014.

“Tanganku Dipegang Teguh”


Putra Jid Redmond, Derek, berusia 26 tahun, difavoritkan menang dalam lomba lari harak 400 meter pada Olimpiade Barcelona 1992. Ketika ia berada di separuh lintasan pada babak semifinal, cedera menghantam kaki kirinya. Ia jatuh rubuh di jalur lintasan dengan urat lutut yang robek. Ketika tim medis mendekat, Redmond berusaha melawan rasa sakit kakinya. “Ini adalah naluri binatang,” katanya kemudian.

Ia menata kembali harapannya, mendorong para pelatihnya dan berusaha keras menyelesaikan perlombaan. Ketika Redmond mencapai jalur lintasannya, seorang laki-laki bertubuh besar menerobos kerumunan penonton. Ia mengenakan t-shirt bertuliskan “Apakah Anda sudah memeluk anak Anda hari ini?” dan topi bertuliskan “Lakukan Saja”. Laki-laki itu adalah Jim Redmond, ayah Derek. “Kamu tidak harus melakukan ini,” katanya kepada anaknya yang menangis. “Ya, saya harus melakukannya,” ucap Derek. “Baiklah kalau begitu,” kata Jim, “kita akan menyelesaikannya bersama.” Mereka pun melakukannya. Jim merangkul bahu Derek. Ia membantu putranya yang terpincang-pincang melintasi garis finish. Sambil mengusir tim keamanan, kadang-kadang kepala si anak terbenam di bahu ayahnya, mereka tetap berada di lintasan Derek sampai selesai. Penonton bertepuk tangan, kemudian berdiri, lalu bersorak. Mereka menangis ketika melihat ayah dan anak itu melewati garis finish menyelesaikan perlombaannya.

Selalu ada masa dalam kehidupan kita, kita mengalami situasi-situasi sulit yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, tidak pernah kita harapkan terjadi sebelumnya. Sakit-penyakit yang tiba-tiba menyerang kita atau sanak keluarga kita, pertengkaran di dalam rumah tangga antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara saudara dengan saudara, permasalahan di dalam lingkungan kerja yang mengancam kita hingga bisa dipecat, permasalahan dengan tetangga di rumah yang rasanya seperti ingin terus mengajak bertengkar, atau juga masalah di dalam pelayanan kita gereja dan permasalahan-permasalahan lainnya. Kita adalah manusia biasa. Kita tidak pernah dapat lari dari permasalahan-permasalahan yang datang ke dalam hidup kita. Namun meskipun kita tidak dapat lari, hal yang dapat kita lakukan adalah pada bagaimana kita merespon permasalahan-permasalahan tersebut, mau menjadikannya sebuah jalan kutuk atau jalan berkat, semuanya tergantung pada setiap kita.

Dan satu hal yang paling pasti saudara terkasih, dan yang paling penting, meskipun permasalahan itu tak kunjung habis dalam hidup dan kita tidak dapat lari darinya, ingatlah bahwa penyertaan Allah selalu ada bagi kita. Sering bukan kita menyalahkan ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita. Ketika ada dalam situasi itu, sebenarnya kita sendiri yang sedang lari dari-Nya, kita yang mengalihkan diri dari pandangan-Nya. Ingatlah cerita di atas  tadi, Jim Redmond selalu memperhatikan anaknya yang sedang berlari dari tribun penonton. Ia memperhatikan dengan seksama apa yang anaknya lakukan. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik yang anaknya lakukan di lapangan. Dan begitu situasi sulit itu datang, Jim Redmond datang kepada anaknya dan memberinya pertolongan pada waktu yang tepat. Begitu juga dengan Allah kita, Ia memandang kita, memperhatikan setiap hal yang kita lakukan, Ia tidak pernah melepaskan pandangan-Nya kepada anak-anak-Nya. Dan begitu anak-Nya membutuhkan pertolongan Ia datang mengulurkan tangan-Nya dan bahkan merangkul kita.

Hal ini mengingatkan kita pada sebuah cerita klasik yang sangat mendalam maknanya, The Footsteps. Ada seseorang yang berjalan di pantai, ia melihat ada dua jejak kaki, jejak kakinya dan jejak kaki Allah. Namun ketika masa-masa sulit datang, ia hanya melihat satu pasang jejak kaki. Ia kecewa dan bertanya, ke mana Allah ketika ia sedang ada dalam situasi sulit. Rupanya apa yang ia lihat, sepasang jejak kaki itu, bukanlah jejak kakinya. Melainkan jejak kaki Allah yang sedang menggendongnya dalam situasi yang sulit.

Mazmur 91:15 berbunyi demikian, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.”
Saudara yang terkasih, hadiah yang terindah yang kita miliki sebagai orang percaya adalah memperoleh penyertaan Allah. Hadiah itu adalah hadiah terbaik dari segala hadiah yang ada di dunia ini. Maka dari itu bersyukurlah karena setiap kita memperoleh hadiah itu. Tidak pernah sekalipun Allah berniat melepaskan tangan-Nya dari kita. Ia senantiasa memegang teguh tangan kita, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Selamat merengkuh tangan-Nya dan berjalan sampai garis akhir bersama-Nya..
Tuhan Allah memberkati kita sekalian..



Jakarta, 19 Oktober 2014.

Selasa, 10 Januari 2017

“Jangan Beriman kepada Ilah Palsu”

Saya teringat pada sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal berjudul “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Saya yakin setiap kita pasti tidak asing dengan cerita yang satu ini. Bawang Putih yang saat itu mengejar pakaian ibu tirinya yang hanyut, menemukannya ada di rumah seorang nenek yang rumahnya dekat dengan muara sungai. Kemudian selama seminggu dia diajak oleh si nenek untuk menginap di rumahnya. Selama seminggu itu Bawang Putih bekerja dengan rajin. Sebagai hadiah dia diminta oleh si nenek untuk memilih satu dari dua buah labu untuk dibawa pulang, ada yang besar dan yang kecil, dan Bawang Putih memilih yang kecil. Sesampainya di rumah ia sangat terkejut karena ketika membuka labu tersebut, rupanya di dalamnya berisi permata dalam jumlah yang tidak sedikit. Bawang Merah pun iri, ia juga menginginkan hal yang sama. Kemudian dengan sengaja ia menghanyutkan pakaiannya di sungai yang sama, mengejarnya dengan mengarahkan langkah kakinya menuju ke rumah nenek itu, menanyakan pakaiannya, menginap dan akhirnya memilih labu yang besar dari dua yang ditawarkan ketika ia hendak pulang. Apa yang ditabur itulah juga yang dituai, pepatah mengatakan demikian. Bawang Merah yang semasa tinggal di rumah si nenek ia hanya bermalas-malasan saja, ketika ia membuka labu yang ia terima dari si nenek betapa terkejutnya ia, bukan permata yang banyak seperti yang ia harapkan, justru hewan-hewan berbisa seperti ular dan kalajengkinglah yang ia dapatkan.

Saudara yang terkasih, kerapkali kita mendengar cerita-cerita semacam ini, barangsiapa mengejar harta karun, harta kekayaan, jabatan dan semacamnya, ia akan berakhir pada celaka. Penekanan utama cerita-cerita semacam ini bukan pada boleh atau tidak mencari uang, kemakmuran, dan semacamnya, tetapi lebih kepada bagaimana kita memperlakukan uang dan hal semacamnya itu dalam kehidupan kita.

Firman Tuhan dalam Matius 6:24 berkata demikian, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Mamon sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai uang saja. Hal lainnya pun dapat menjadi Mamon dalam kehidupan kita, misalnya pekerjaan yang terlalu kita agung-agungkan, hobi yang terlalu kita cintai, jabatan dan status yang hanya ingin didapat untuk kehormatan, dan lain sebagainya. Apabila kita menempatkan hal tersebut terlalu tinggi dibandingkan dengan Allah, maka kita sudah menjadikan hal-hal tersebut sebagai Ilah-ilah dalam kehidupan kita.

Saudara yang terkasih, ingatlah bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu. Pernyataan ini bukan berarti ingin menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang posesif dan egois. Tetapi mari kita tilik diri kita, bukankah kita juga tidak mau jikalau kita diduakan. Ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, bukankah kita tidak ingin apabila lawan bicara kita tidak mengindahkan kita dan sibuk berbicara dengan orang lain? Ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, tentu kita tidak ingin ia berbicara tetapi tetap sibuk mengotak-atik telepon genggamnya? Ketika kita sudah menikah, bukankah kita tidak ingin pasangan kita menikah lagi dengan orang lain? Begitulah juga yang dimaksudkan oleh Allah bahwa Ia tidak ingin umat-Nya menduakan dia. Kecemburuan yang Ia rasakan bukan berdampak bahwa Ia akan marah, tetapi lebih kepada Ia merasakan kesedihan yang mendalam atas cinta dan keimanan kita kepada Ilah yang lain itu, yang palsu itu, uang, harta, kehormatan, pekerjaan, jabatan, dan lain sebagainya.

Saudara yang terkasih, oleh karena itu marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, sudah sejauh apa kita menempatkan Allah di dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menempatkan Ia sebagai yang utama atas hidup kita? Sudahkan Ia menjadi sumber pencarian kita atas kebahagiaan, kemakmuran dan kedamaian yang kita harapkan? Matius 6:33 berbunyi demikian, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Jangan beriman kepada Ilah-ilah palsu itu. Mereka tidak dapat memberikan kebahagiaan sejati, kedamaian sejati, hanya Allah saja yang dapat, karena Ia sendirilah Sang Sejati itu.

Selamat menghayati.
Tuhan Allah memberkati kita sekalian..



Jakarta, 12 Oktober 2014.

“Lebih Indah daripada Emas, Lebih Manis daripada Madu”


Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal, terdampar di sebuah pualu yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang. Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah, “Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?”. Dia menangis.
Pagi-pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.
“Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?” tanya pria itu kepada penyelamatnya.
“Kami melihat tanda asapmu,” jawab mereka.
Mudah sekali bagi kita untuk menyerah ketika keadaan dalam hari-hari hidup kita menjadi buruk. Ketika masalah dalam rumah tangga, suami dan istri, orang tua dan anak, saudara dan saudara datang, atau masalah dalam pekerjaan, atau dalam pelayanan, atau ketika kita kehilangan hal-hal yang kita kasihi, dengan sangat mudah kita langsung menyerah dan mengambil pikiran-pikiran negatif. Padahal tanpa kita sadari, ketika pikiran negatif atau menyerah adalah hal pertama yang kita lakukan, secara psikologi, tubuh kita dapat menjadi tidak seimbang, sakit dan lain sebagainya. Di sini artinya kita dirugikan. Lalu secara spiritual pun, relasi kita dengan Allah menjadi jauh. Mengapa? Karena kerapkali dalam situasi-situasi sulit tersebut, orang yang pertama kali kita persalahkan adalah Allah.
Dalam menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, sebenarnya ada banyak hal yang patut kita syukuri. Syukur yang terbesar adalah karena kita memiliki Allah yang senantiasa mengasihi kita. Ketika kita mengatakan bahwa Ia meninggalkan kita, sebenarnya justru kitalah yang sedang meninggalkan Dia. Dia sendiri tidak pernah lengah sedikitpun untuk memperhatikan dan menggandeng tangan kita. Lalu bagaimana kita bisa melihat penyertaan-Nya? Salah satunya lewat Firman yang Ia sudah berikan kepada manusia, melalui Alkitab yang dapat kita baca setiap saat, setiap waktu, kapanpun dan di manapun. Mari kita lihat bersama,

Ketika kita berkata, “Itu tidak mungkin.”
Tuhan berkata, “Tidak ada hal yang tidak mungkin.”
(Lukas 18:27)
Ketika kita berkata, “Aku terlalu capai.”
Tuhan berkata, “Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”
(Matius 11:28)
Ketika kita berkata, “Tidak ada seorangpun yang mencintai aku.”
Tuhan berkata, “Aku mencintaimu.”
(Yohanes 13:16)
Ketika kita berkata, “Aku tidak mengerti.”
Tuhan berkata, “Aku akan menuntun langkah-langkahmu.”
(Amsal 3:5-6)
Ketika kita berkata, “Aku tidak bisa melakukannya.”
Tuhan berkata, “Kamu bisa melakukan semuanya.”
(Filipi 4:13)
Ketika kita berkata, “Aku tidak bisa memafkan diriku sendiri.”
Tuhan berkata, “Aku memaafkanmu.”
(I Yohanes 1:9)
Ketika kita berkata, “Aku tidak bisa mengatasi.”
Tuhan berkata, “Aku akan menyediakan kebutuhanmu.”
(Filipi 4:19)
Ketika kita berkata, “Aku selalu kuatir dan frustasi.”
Tuhan berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaku.”
(I Petrus 5:7)
Ketika kita berkata, “Aku tidak mempunyai iman yang kuat.”
Tuhan berkata, “Aku memberi setiap orang iman menurut ukurannya.”
(Roma 12:3)
Ketika kita berkata, “Aku merasa sendirian.”
Tuhan berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkanmu.”
(Ibrani 13:5)

Lihat, betapa indah bukan penyertaan Bapa. Kita dapat melihatnya melalui banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan supaya bisa melihatnya, ingatlah selalu penyertaan Bapa yang lebih indah daripada emas, dan lebih manis daripada madu manapun di dunia ini.
Tuhan Allah memberkati kita sekalian.



Jakarta, 05 Oktober 2014.

Cara Membuat Renungan yang Sederhana

Tips membuat renungan sederhana untuk para pelayan di tim pelawatan.

Sebagai seorang pelawat, memberikan penguatan kepada jemaat dan kepada sesama rekan pelawat sendiri adalah hal yang sangat perlu dan bahkan harus untuk kita lakukan. Salah satu penguatan itu dapat dilakukan dengan kita berbagi Firman Tuhan lewat renungan. Tetapi kita menyadari bahwa seringkali kita mengalami kesulitan untuk membawakan sebuah renungan bagi sesama yang lain. Oleh karena itu, berikut adalah langkah-langkah praktis untuk membuat sebuah bahan renungan yang sederhana namun tetap bisa menguatkan bagi yang lain, dan bahkan bisa menguatkan spiritualitas diri kita sendiri juga.

1.    Pilih
Bukalah Alkitab Anda dan pilih sebuah perikop. Perikop yang dipilih bebas, dan untuk pelawat bisa mengambil perikop dari kisah-kisah pelayanan Yesus di Perjanjian Baru. Tetapi selain daripada itu, perikop lainpun bisa dipakai, baik dari Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru lainnya.
2.    Baca
Jika sudah menemukan sebuah perikop, baca perikop tersebut secara perlahan-lahan. Jangan terburu-buru, jangan cepat-cepat ingin selesai, tetapi perlahan supaya Anda dapat menangkap isi cerita perikop tersebut.

3.    Temukan
Jika sudah membaca satu perikop secara utuh dan perlahan, baca lagi perikop tersebut untuk yang kedua kali. Kali ini temukanlah satu ayat yang sekiranya mempesona hati Anda. Mempesona artinya ketika membaca ayat hati Anda merasa tergugah.

4.    Renungkan
Fokuskan diri Anda pada ayat yang mempesona Anda tersebut, dan renungkan secara mendalam, mengapa ayat tersebut dapat menggugah hati Anda. Dalam perenungan Anda tersebut, kemungkinan mengapa hati Anda tergugah adalah karena ada pengalaman hidup Anda yang terasa sangat dekat dengan ayat tersebut. Renungkanlah hal tersebut secara mendalam dan temukanlah pengalaman hidup Anda bersama Allah di sana.


5.    Sharingkan
Bagikanlah perenungan yang sudah Anda temukan bersama Allah dan diri Anda tersebut kepada orang lain. Dan percayalah bahwa itu bisa menjadi berkat bagi yang lain.
Selamat mencoba dan selamat menjadi berkat! :)


Jakarta, 08 Desember 2014.